Langsung ke konten utama

Cerita Horor: Desa Setelah Magrib

Ilustrasi Gambar Desa Setelah Magrib (Generated AI)

Cerita Horor - Tak ada yang berani menyebut nama desa itu lagi. Di peta, ia masih ada. Tapi di mulut orang-orang sekitar, ia hanya disebut “desa kosong setelah magrib.”

Aku pertama kali mendengarnya dari seorang sopir tua yang mengantarku liputan ke wilayah perbukitan. Sebagai orang yang pernah jadi reporter dan kini lebih sering mengedit kisah orang lain, aku justru tergelitik untuk melihatnya sendiri. Katanya, desa itu ditinggalkan warganya karena sebuah pesugihan. Dan setiap habis magrib, suara-suara aneh mendatangi rumah-rumah, memanggil nama penduduknya satu per satu.

Namanya Desa Sumberrejo. Ironis, karena tak ada lagi sumber kehidupan di sana.

Perjalanan ke desa itu memakan waktu dua jam dari kota kecamatan. Jalanannya sempit dan retak, diapit kebun karet yang menjulang seperti barisan penjaga bisu. Aku tiba menjelang sore. Langit mulai menguning, matahari perlahan turun di balik bukit.

Rumah-rumah kayu berdiri kosong. Pintu-pintu terbuka, beberapa menggantung miring. Jemuran lapuk masih terikat di tali, seolah ditinggalkan begitu saja tanpa sempat diambil. Angin berembus pelan, membawa bau tanah lembap dan sesuatu yang lebih tua… bau kayu basah bercampur anyir yang sulit dijelaskan.

Aku memarkir motor di depan balai desa. Catnya mengelupas. Di dinding depan masih terpasang papan nama yang nyaris tak terbaca. Di dalamnya, meja dan kursi berserakan. Di salah satu sudut, ada sesajen kering: piring berisi bunga yang sudah menghitam, dan mangkuk tanah liat berjelaga.

Seorang lelaki tua tiba-tiba muncul dari belakang balai. Tubuhnya kurus, sarung dililit tinggi. Ia menatapku lama.

“Kamu mau apa ke sini?” suaranya serak.

“Saya dengar desa ini kosong. Saya cuma ingin tahu kenapa.”

Ia menghela napas panjang. “Pulanglah sebelum magrib.”

Aku tersenyum kaku. “Memangnya ada apa?”

Lelaki itu menatap langit yang mulai redup. “Awalnya hanya satu rumah yang melakukan pesugihan. Katanya supaya sawahnya panen terus. Tapi syaratnya… setiap malam setelah magrib, harus ada yang ‘menjawab’ panggilan.”

“Menjawab panggilan?”

Ia mengangguk pelan. “Suara itu datang. Memanggil nama. Kalau dijawab, ia tahu kau ada. Kalau tidak dijawab… ia akan terus memanggil sampai kau tak tahan.”

Aku merasakan tengkukku meremang. “Terus?”

“Awalnya hanya keluarga itu yang mendengar. Tapi lama-lama… seluruh desa.”

Adzan magrib terdengar samar dari desa seberang bukit. Lelaki tua itu langsung berbalik. “Saya tak tinggal di sini lagi. Saya cuma menjaga ladang di pinggir. Jangan menunggu sampai gelap.”

Ia pergi begitu saja, meninggalkanku dengan suara angin yang kini terdengar lebih berat.

Aku bertahan.

Langit berubah ungu gelap. Bayangan rumah-rumah memanjang, lalu melebur dalam kegelapan. Tak ada lampu menyala. Hanya cahaya sisa senja yang perlahan mati.

Dan tepat setelah adzan selesai, aku mendengarnya.

“Baguuuus…”

Suara itu lirih. Seperti bisikan yang ditiup angin. Aku membeku. Aku yakin tak ada orang di sini yang tahu namaku.

“Bagus… keluar…”

Suara itu datang dari dalam salah satu rumah. Lembut, nyaris seperti suara ibu yang memanggil anaknya pulang.

Aku berdiri, jantung berdegup keras. Mungkin hanya sugesti. Mungkin angin. Tapi suara itu terdengar lagi, kali ini dari arah berbeda.

“Bagus…”

Sekarang dari belakangku.

Aku menoleh cepat. Gelap. Hanya siluet pohon dan rumah kosong.

Lalu terdengar suara lain. Lebih banyak. Berlapis-lapis. Seperti puluhan orang berbisik bersamaan.

“Jawab… jawab…”

Aku menutup telinga, tapi suara itu seperti masuk langsung ke dalam kepala. Mereka memanggil nama-nama lain sekarang.

“Siti… Rahman… Warto…”

Nama-nama itu menggema dari setiap sudut desa. Dari jendela yang pecah, dari sumur tua, dari atap yang bolong. Seolah seluruh desa hidup kembali dalam kegelapan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit. Salah satu rumah perlahan terbuka sendiri. Dari dalamnya, kulihat bayangan bergerak. Tidak jelas bentuknya. Terlalu tinggi untuk manusia, terlalu kurus untuk disebut tubuh.

“Baguuuus…”

Kini tepat di telingaku.

Napas hangat menyentuh leherku.

Refleks, hampir saja aku menjawab, “Iya?” Tapi teringat ucapan lelaki tua itu: kalau dijawab, ia tahu kau ada.

Aku menggigit bibir, menahan suara. Air mataku hampir jatuh karena tekanan di kepala makin kuat. Suara-suara itu berubah jadi ratapan. Lalu tawa kecil. Tawa yang tidak sinkron, tidak manusiawi.

Tanah di bawah kakiku bergetar halus. Dari kejauhan, kulihat di tengah desa ada pohon besar yang batangnya dililit kain hitam. Di bawahnya, sesajen baru. Asap tipis mengepul.

Jadi ini pusatnya.

Bayangan-bayangan tadi kini berdiri di sekitar pohon itu. Banyak. Menghadap ke arahku. Meski tak punya wajah, aku tahu mereka sedang menatap.

Serempak, mereka berbisik:

“Sudah lama kami menunggu jawaban…”

Aku mundur perlahan. Langkahku tersandung batu. Saat tubuhku hampir jatuh, suara itu berubah jadi jeritan panjang yang memekakkan.

Aku tak peduli lagi. Aku berlari ke motor, menyalakannya dengan tangan gemetar. Saat mesin menyala, semua suara tiba-tiba berhenti.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Sebelum benar-benar pergi, aku sempat menoleh. Di ujung jalan desa, berdiri sosok lelaki tua yang tadi. Tapi kini wajahnya pucat, matanya kosong.

Bibirnya bergerak pelan.

“Kenapa tidak kamu jawab saja?”

Lampu motor berkedip. Dalam sepersekian detik gelap, aku melihat seluruh desa dipenuhi sosok-sosok hitam berdiri di depan rumah masing-masing.

Menunggu.

Aku memacu motor secepat mungkin tanpa berani menoleh lagi.

Sejak malam itu, setiap habis magrib, ponselku kadang berdering tanpa nomor. Saat kuangkat, hanya ada bisikan pelan.

“Baguuuus… kamu belum menjawab…”


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Horor: Sumur Tua dan Perjanjian Darah Keluarga Wiryo

  Gambar AI Generated Cerita Horor - Di Kampung Karangjati, ada satu keluarga yang selalu disebut-sebut sebagai teladan. Rumahnya paling besar. Halamannya luas. Setiap bulan mereka membagikan sembako, membantu biaya sekolah anak yatim, bahkan menyumbang untuk renovasi mushola. Namanya keluarga Pak Wiryo. Tak ada yang tahu pasti sejak kapan kekayaan itu datang. Dulu, Pak Wiryo hanya pedagang hasil bumi biasa. Hidupnya cukup, tapi tak pernah berlebih. Namun dalam lima tahun terakhir, sawahnya mendadak subur tak pernah gagal panen. Usahanya merambah ke mana-mana. Tanah dibeli, ruko berdiri, mobil berganti tiap tahun. Orang-orang menyebutnya rezeki orang sabar. Padahal, rezeki itu dibayar mahal. Aku tahu cerita ini dari Darto, satu-satunya orang yang selamat dari lingkaran keluarga itu. Ia masih sepupu jauh Pak Wiryo. Malam itu, dengan wajah pucat dan mata cekung, ia bercerita sambil terus menoleh ke belakang, seolah ada yang mengikutinya. “Semua berawal dari sakitnya Bu Wiryo,” katan...